Minggu, 25 November 2012

Ustadz Vs Komedian



Dua profesi yang senantiasa mewarnai pentas media layar kaca di bulan Ramadhan ; ustadz dan komedian seakan bersaing bahkan tak jarang berkolaborasi dalam memeriahkan tayangan jelang sahur maupun buka di stasiun televisi negeri tercinta. Disampaikan di tausiyah Isya-Tarawih bahwa amat  berbeda yang terjadi di negeri jiran Malaysia dan Brunei, di dua jiran kita itu siaran televisyen-nya diisi full tausiyah dari ulama di sana minus komedian dan artis. Sehingga dapatlah dikatakan mereka benar-benar khusyu’ menjalankan ibadah Ramadhan. Sementara kita di tanah air ini benar-benar “khusyu’”terkekeh-kekeh menonton tingkah polah para ‘punakawan’ layar kaca. Yang dahulu pelawak sekarang ustadz ada, dulu penyanyi eh sekarang ngebodor, ada juga dulu tukang banyol kini pejabat, dulu tukang dodol sekarang tukang cendol (apa hubungannya, ya) celakanya yang sudah ustadz malah mendadak ngelucu. Pokoknya kebolak-balik, penthalitan, pating pecothot, pabaliyut. Wis embuhlah, mumet
Intinya tak hendak menghina profesi tertentu tetapi saya fikir komposisinya sudah tidak proporsional. Seperti kita tahu joke itu ibarat garam pada masakan ia akan lezat bila sedikit. Sepertinya “masakan” media televisi belakangan ini sudah kelewat asin gak kira-kira. Kasihan juga yang benar-benar komedian sekelas Haji Jojon dan Nunung akhirnya demi memenuhi genjotan tayang yang padat mereka terjungkal menjadi ‘badut’ saja. Profesi yang semestinya bukan main malah menjadi bahan mainan oleh oknum korporat raksasa media.
…tak gendhong, ke mana-mana !, haa… haa... haa… hik’s !


Tidak ada komentar:

Posting Komentar