'Tradisi'
qurban sebenarnya dimulakan jauh sebelum masa Ibrahim dan Ismail As. Adalah
moyang manusia sedunia yang mengawali instruksi itu - atas perintah Allah tentu
- untuk kedua putranya Habil dan Qabil. Konon dikisahkan bahwa Habil
mengurbankan hasil ternaknya yang terbaik sedang Qabil menyerahkan hasil ladang
restan (sortiran setelah yang berkualitas dipisahkan)
Sehingga
ketika hasil 'audit' dipublikasikan hanya qurban yang baik yang Allah terima
(qurban Habil) dan sebaliknya qurban yang tidak lolos kualifikasi ditolak Allah
(qurban Qabil) Betapa kecewanya Qabil mengetahui hal itu sampai keluar
statemennya, "Aku akan membunuhmu !" dst...
Kalau
kita mau menelaah lebih dalam Habil dan Qabil, keduanya sama-sama 'orang baik-baik'
hanya sedikit berbeda dalam menyusun skala prioritas jika Habil melihat
kepentingan bisnisnya sebagai sarana ibadah saja sedang Qabil menempatkan
bisnisnya pada prioritas utama.
Siapakah
kita, Habil atau Qabil ? Mari bercermin pada kisah dua putra Adam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar