Minggu, 25 November 2012

Puasa ala Rasul Vs Puasa ala Kita



Kalau kita memperhatikan cara berpuasa Rosul digambarkan dalam beberapa riwayat, bahwa beliau makan sahur hanyalah tiga butir kurma atau sepotong roti dan segelas air begitu pula dengan berbukanya kurang lebih juga sama. Kemudian, Wow..Abrakadabra.! lihatlah apa yang kita lakukan ketika kita berbuka, jauh panggang dari api ! Haihata ! Jauh sekali.
Di atas meja makan kita telah berjejer mulai kolak, es campur, sirup XYZ, sirup Mardjono, kurma, cemilan, nasi padang, dan kawan-kawannya yang tidak bisa saya sebut satu-persatu karena untuk menghemat waktu,..he..he..he…
Sahur juga nggak kalah heboh, ada kopi susu untuk pembuka, nasi gudheg komplit, sambel goreng ati, ditutup dengan ager dingin dan buah segar diakhiri dengan minum jus jeruk atau minuman isotonic (katanya mencegah dehidrasi mas Bro..)…Come on, Sobat ! Kapan kita mulai bicara kualitas puasa kalau dari tahun ke tahun Ramadhan kita tak pernah beranjak dari urusan ‘wadhag’ alias seputar perut. 
Tak ketinggalan media senantiasa memotivasi, menggenjot, membombardir terus-menerus supaya pemirsa habis-habisan di bulan mulia ini dengan “berinfaq” di pasar bengkak (supermarket) karena di situlah makna ‘bulan penuh berkah’ menurut mereka tentu.
Belum lagi saat Lebaran tiba, orang tua merasa berdosa jika tak bisa beli baju baru untuk anaknya yang kemudian si anak menjadi minder karenanya.  Mari kita sudahi itu semua kita ganti dengan cerita yang berbeda Ramadhan ini. Bisa, to ? Enak, to ?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar