Kalau kita memperhatikan cara
berpuasa Rosul digambarkan dalam beberapa riwayat, bahwa beliau makan sahur
hanyalah tiga butir kurma atau sepotong roti dan segelas air begitu pula dengan
berbukanya kurang lebih juga sama. Kemudian, Wow..Abrakadabra.! lihatlah apa
yang kita lakukan ketika kita berbuka, jauh panggang dari api ! Haihata ! Jauh
sekali.
Di atas meja makan kita telah
berjejer mulai kolak, es campur, sirup XYZ, sirup Mardjono, kurma, cemilan,
nasi padang, dan kawan-kawannya yang tidak bisa saya sebut satu-persatu karena
untuk menghemat waktu,..he..he..he…
Sahur juga nggak kalah heboh,
ada kopi susu untuk pembuka, nasi gudheg komplit, sambel goreng ati, ditutup
dengan ager dingin dan buah segar diakhiri dengan minum jus jeruk atau minuman
isotonic (katanya mencegah dehidrasi mas Bro..)…Come on, Sobat ! Kapan kita mulai bicara kualitas puasa kalau dari
tahun ke tahun Ramadhan kita tak pernah beranjak dari urusan ‘wadhag’ alias seputar perut.
Tak ketinggalan media senantiasa
memotivasi, menggenjot, membombardir terus-menerus supaya pemirsa habis-habisan
di bulan mulia ini dengan “berinfaq”
di pasar bengkak (supermarket) karena
di situlah makna ‘bulan penuh berkah’ menurut mereka tentu.
Belum lagi saat Lebaran tiba,
orang tua merasa berdosa jika tak bisa beli baju baru untuk anaknya yang
kemudian si anak menjadi minder karenanya.
Mari kita sudahi itu semua kita ganti dengan cerita yang berbeda
Ramadhan ini. Bisa, to ? Enak, to ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar