Dua profesi yang senantiasa
mewarnai pentas media layar kaca di bulan Ramadhan ; ustadz dan komedian seakan
bersaing bahkan tak jarang berkolaborasi dalam memeriahkan tayangan jelang
sahur maupun buka di stasiun televisi negeri tercinta. Disampaikan di tausiyah
Isya-Tarawih bahwa amat berbeda yang
terjadi di negeri jiran Malaysia dan Brunei, di dua jiran kita itu siaran televisyen-nya
diisi full tausiyah dari ulama di sana minus komedian dan artis. Sehingga
dapatlah dikatakan mereka benar-benar khusyu’ menjalankan ibadah Ramadhan.
Sementara kita di tanah air ini benar-benar “khusyu’”terkekeh-kekeh menonton tingkah polah para ‘punakawan’ layar kaca. Yang dahulu
pelawak sekarang ustadz ada, dulu penyanyi eh sekarang ngebodor, ada juga dulu tukang banyol kini pejabat, dulu tukang
dodol sekarang tukang cendol (apa hubungannya, ya) celakanya yang sudah ustadz
malah mendadak ngelucu. Pokoknya kebolak-balik, penthalitan, pating pecothot,
pabaliyut. Wis embuhlah, mumet…
Intinya tak hendak menghina
profesi tertentu tetapi saya fikir komposisinya sudah tidak proporsional.
Seperti kita tahu joke itu ibarat
garam pada masakan ia akan lezat bila sedikit. Sepertinya “masakan” media
televisi belakangan ini sudah kelewat asin gak kira-kira. Kasihan juga yang
benar-benar komedian sekelas Haji Jojon dan Nunung akhirnya demi memenuhi
genjotan tayang yang padat mereka terjungkal menjadi ‘badut’ saja. Profesi yang
semestinya bukan main malah menjadi bahan mainan oleh oknum korporat raksasa
media.
…tak
gendhong, ke
mana-mana !, haa… haa... haa… hik’s !