UMROH
Kami Datang Memenuhi Panggilan-Mu
'Labbaika Allahumma labbaik,
labbaik laa syariika laka labbaik,
innal-hamda wan-ni'mata laka wal-mulk,
laa syariika lak'
Aku sambut panggilan-Mu ya Allah, aku sambut panggilan-Mu.
Tiada sekutu bagi-Mu, aku sambut panggilan-Mu.
Sesungguhnya segala puji dan nikmat adalah kepunyaan-Mu,
demikian pula kekuasaan,
tiada sekutu bagi-Mu
Bermacam ragam bahasa, etnis, berbagai
bangsa telah sanggup bersama-sama
menunaikan ibadah haji, umroh, dibalut kain ihram putih menyatukan segala
perbedaan kaum mukmin, mengharap sempurnalah sudah Rukun-Nya dalam diri tiap
jamaah.
Itulah yang semestinya bisa menjadi
oleh-oleh spesial saat kembali ke tanah air sebagai wujud mabrurnya haji yang
telah tertunai, bukan hanya jerigen air zamzam, kurma nabi, buah tin dan
zaitun, songkok putih, maupun minyak kesturi, buah tangan kepada sanak-saudara
dan jiran, dan bukan pula sebutan ‘haji’ di depan nama. Bukan semua itu yang dibawa pulang.
Tak pelak lagi, hikmah perjalanan haji
pun telah menjadi cucuran air mata taubat bagi seorang Malcolm X, dari seorang Afro-Amerika yang meyakini ‘The Black Moslem ‘ (The Nation of Islam) sebagai aqidahnya.
Di tempat mulia inilah, ia tak mampu menahan ‘kebenaran baru’ di hadapan
matanya. Dogma bertahun-tahun yang disuntikkan di bawah kesadarannya oleh ‘The Prophet’ Elijah Mohammad - sang
guru ideolog - , runtuh seketika dalam hitungan detik.
Betapa ia saksikan orang yang berkulit
warna kapas, kulit kuning, merah, sawo matang bahkan berkulit bagai arang
seperti dirinya, memakai kain yang sama, menyerukan talbiah dalam satu
bahasa, melakukan aktivitas yang sama, mencium batu hitam yang sama. Tak ada
pangkat, jabatan, sopir yang biasa mengantar, baik jendral maupun kopral,
direktur sampai tukang sapu, tidaklah mendapatkan perlakuan yang berbeda.
Siapa tak akan pecah tangisnya melihat
pusaran dahsyat jamaah yang thawaf tanpa komando, melainkan karena
ketundukan akan syariat Ilahi semata. Semuanya telah membelalakkan mata, hati
dan fikirannya akan kebesaran dan kebenaran ajaran Islam yang begitu sempurna.
Serta merta prosesi haji telah membongkar
seluruh doktrin yang tertanam sebelumnya,
kemudian mewarnai titik balik hidupnya hingga akhirnya musti menjemput
ajal diberondong peluru saat sedang khutbah demi keyakinan paripurnanya.
Bercermin pada kisah Malcolm X,
memetik pelajaran tak ternilai harganya bahwa ia telah membawa kedalaman
pemahaman ibadah haji, menjadi sebuah rihlah napak tilas perjuangan Nabi
Ibrahim, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad SAW. Suatu manasik yang secara riil berhasil diaktualisasikan
dengan apik. Sehingga pantas kiranya kita jadikan sebuah pigura emas untuk
membingkai lukisan baru yang bertema sama - haji mabrur. Insya Allah.