Senin, 31 Maret 2014

Haji dan Kesalehan Sosial

HAJI DAN KESALEHAN SOSIAL



Ini adalah kata-kata yang diucapkan oleh sekitar dua juta orang dari seluruh dunia , seolah-olah ditarik oleh magnet, menuju satu tempat di Bumi . Seperti yang terjadi setiap tahun selama 14 abad , para peziarah Muslim berkumpul di Makkah untuk melakukan ritual berdasarkan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad selama kunjungan terakhirnya ke kota ini.
Melakukan ritual ini , yang dikenal sebagai Haji , adalah pilar kelima Islam dan manifestasi paling signifikan iman dan persatuan Islam. Melakukan ibadah haji setidaknya sekali seumur hidup adalah kewajiban bagi umat Islam yang secara fisik dan finansial mampu melakukan perjalanan ke Makkah. Penekanan pada kemampuan keuangan dimaksudkan untuk memastikan bahwa seorang Muslim harus mengurus keluarganya terlebih dahulu. Persyaratan bahwa seorang Muslim mesti sehat dan secara fisik mampu melaksanakan ibadah haji dimaksudkan untuk membebaskan mereka yang tidak dapat menanggung kerasnya perjalanan diperpanjang .

Kamis, 13 Maret 2014

Pengertian Haji

PENGERTIAN HAJI



Pengertian Haji
Haji  الحجّ  secara etimologi adalah al qashdu artinya menyengaja.
Pengertian haji secara terminologi ialah suatu amal ibadah yang dilakukan dengan sengaja dan secara ikhlas hanya mengharap ridha Allah, ziarah ke Baitullah di Mekah dengan syarat dan rukun yang telah ditentukan.
Dalil yang mewajibkan haji :
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا
... , haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah, ... ( Ali ‘Imron : 97 )
Ibadah haji wajib ditunaikan segera bagi orang yang telah terpenuhi syaratnya, jika tidak demikian maka jatuhnya dosa karena melalaikannya.
Syarat Wajib Haji :
   1.   Muslim
    2. Baligh
     Aqil (berakal)
      Merdeka
      Istitha’ah (sanggup) meliputi hal–hal sebagai berikut :
Ø  Memiliki finansial untuk perjalanan haji mulai keberangkatan sampai dengan kembali
Ø  Ada prasarana transportasi baik milik sendiri maupun sewa ( milik travel agent )
Ø  Aman selama perjalanan  hingga kepulangan
Ø  Bagi kaum perempuan harus didampingi mahram (suami atau perempuan lain yang dipercaya)
Ø  Sehat jasmani dan ruhani
Ø  Memiliki cukup pengetahuan tentang syariat haji
Syarat Sah Haji :
*      Muslim
*      Baligh
*      ‘Aqil
*      Merdeka

Rabu, 05 Maret 2014

Umroh Indonesia

UMROH

Kami Datang Memenuhi Panggilan-Mu



'Labbaika Allahumma labbaik,
labbaik laa syariika laka labbaik,
innal-hamda wan-ni'mata laka wal-mulk,
laa syariika lak'


Aku sambut panggilan-Mu ya Allah, aku sambut panggilan-Mu.
Tiada sekutu bagi-Mu, aku sambut panggilan-Mu.
Sesungguhnya segala puji dan nikmat adalah kepunyaan-Mu, demikian pula kekuasaan,
tiada sekutu bagi-Mu

Bermacam ragam bahasa, etnis, berbagai  bangsa telah sanggup bersama-sama menunaikan ibadah haji, umroh, dibalut kain ihram putih menyatukan segala perbedaan kaum mukmin, mengharap sempurnalah sudah Rukun-Nya dalam diri tiap jamaah.
Itulah yang semestinya bisa menjadi oleh-oleh spesial saat kembali ke tanah air sebagai wujud mabrurnya haji yang telah tertunai, bukan hanya jerigen air zamzam, kurma nabi, buah tin dan zaitun, songkok putih, maupun minyak kesturi, buah tangan kepada sanak-saudara dan jiran, dan bukan pula sebutan ‘haji’ di depan nama.  Bukan semua itu yang dibawa pulang.
Tak pelak lagi, hikmah perjalanan haji pun telah menjadi cucuran air mata taubat bagi seorang Malcolm X, dari seorang  Afro-Amerika yang meyakini  ‘The Black Moslem ‘ (The Nation of Islam) sebagai aqidahnya. Di tempat mulia inilah, ia tak mampu menahan ‘kebenaran baru’ di hadapan matanya. Dogma bertahun-tahun yang disuntikkan di bawah kesadarannya oleh ‘The Prophet’ Elijah Mohammad - sang guru ideolog - , runtuh seketika dalam hitungan detik.
Betapa ia saksikan orang yang berkulit warna kapas, kulit kuning, merah, sawo matang bahkan berkulit bagai arang seperti dirinya, memakai kain yang sama, menyerukan talbiah dalam satu bahasa, melakukan aktivitas yang sama, mencium batu hitam yang sama. Tak ada pangkat, jabatan, sopir yang biasa mengantar, baik jendral maupun kopral, direktur sampai tukang sapu, tidaklah mendapatkan perlakuan yang berbeda.
Siapa tak akan pecah tangisnya melihat pusaran dahsyat jamaah yang thawaf tanpa komando, melainkan karena ketundukan akan syariat Ilahi semata. Semuanya telah membelalakkan mata, hati dan fikirannya akan kebesaran dan kebenaran ajaran Islam yang begitu sempurna.
Serta merta prosesi haji telah membongkar seluruh doktrin yang tertanam sebelumnya,  kemudian mewarnai titik balik hidupnya hingga akhirnya musti menjemput ajal diberondong peluru saat sedang khutbah demi keyakinan paripurnanya.
Bercermin pada kisah Malcolm X, memetik pelajaran tak ternilai harganya bahwa ia telah membawa kedalaman pemahaman ibadah haji, menjadi sebuah rihlah napak tilas perjuangan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad SAW.  Suatu manasik  yang secara riil berhasil diaktualisasikan dengan apik. Sehingga pantas kiranya kita jadikan sebuah pigura emas untuk membingkai lukisan baru yang bertema sama - haji mabrur. Insya Allah.


Minggu, 25 November 2012

Ustadz Vs Komedian



Dua profesi yang senantiasa mewarnai pentas media layar kaca di bulan Ramadhan ; ustadz dan komedian seakan bersaing bahkan tak jarang berkolaborasi dalam memeriahkan tayangan jelang sahur maupun buka di stasiun televisi negeri tercinta. Disampaikan di tausiyah Isya-Tarawih bahwa amat  berbeda yang terjadi di negeri jiran Malaysia dan Brunei, di dua jiran kita itu siaran televisyen-nya diisi full tausiyah dari ulama di sana minus komedian dan artis. Sehingga dapatlah dikatakan mereka benar-benar khusyu’ menjalankan ibadah Ramadhan. Sementara kita di tanah air ini benar-benar “khusyu’”terkekeh-kekeh menonton tingkah polah para ‘punakawan’ layar kaca. Yang dahulu pelawak sekarang ustadz ada, dulu penyanyi eh sekarang ngebodor, ada juga dulu tukang banyol kini pejabat, dulu tukang dodol sekarang tukang cendol (apa hubungannya, ya) celakanya yang sudah ustadz malah mendadak ngelucu. Pokoknya kebolak-balik, penthalitan, pating pecothot, pabaliyut. Wis embuhlah, mumet
Intinya tak hendak menghina profesi tertentu tetapi saya fikir komposisinya sudah tidak proporsional. Seperti kita tahu joke itu ibarat garam pada masakan ia akan lezat bila sedikit. Sepertinya “masakan” media televisi belakangan ini sudah kelewat asin gak kira-kira. Kasihan juga yang benar-benar komedian sekelas Haji Jojon dan Nunung akhirnya demi memenuhi genjotan tayang yang padat mereka terjungkal menjadi ‘badut’ saja. Profesi yang semestinya bukan main malah menjadi bahan mainan oleh oknum korporat raksasa media.
…tak gendhong, ke mana-mana !, haa… haa... haa… hik’s !


Puasa ala Rasul Vs Puasa ala Kita



Kalau kita memperhatikan cara berpuasa Rosul digambarkan dalam beberapa riwayat, bahwa beliau makan sahur hanyalah tiga butir kurma atau sepotong roti dan segelas air begitu pula dengan berbukanya kurang lebih juga sama. Kemudian, Wow..Abrakadabra.! lihatlah apa yang kita lakukan ketika kita berbuka, jauh panggang dari api ! Haihata ! Jauh sekali.
Di atas meja makan kita telah berjejer mulai kolak, es campur, sirup XYZ, sirup Mardjono, kurma, cemilan, nasi padang, dan kawan-kawannya yang tidak bisa saya sebut satu-persatu karena untuk menghemat waktu,..he..he..he…
Sahur juga nggak kalah heboh, ada kopi susu untuk pembuka, nasi gudheg komplit, sambel goreng ati, ditutup dengan ager dingin dan buah segar diakhiri dengan minum jus jeruk atau minuman isotonic (katanya mencegah dehidrasi mas Bro..)…Come on, Sobat ! Kapan kita mulai bicara kualitas puasa kalau dari tahun ke tahun Ramadhan kita tak pernah beranjak dari urusan ‘wadhag’ alias seputar perut. 
Tak ketinggalan media senantiasa memotivasi, menggenjot, membombardir terus-menerus supaya pemirsa habis-habisan di bulan mulia ini dengan “berinfaq” di pasar bengkak (supermarket) karena di situlah makna ‘bulan penuh berkah’ menurut mereka tentu.
Belum lagi saat Lebaran tiba, orang tua merasa berdosa jika tak bisa beli baju baru untuk anaknya yang kemudian si anak menjadi minder karenanya.  Mari kita sudahi itu semua kita ganti dengan cerita yang berbeda Ramadhan ini. Bisa, to ? Enak, to ?